[TRIPLE-SHOOT] Fate or Fake ? -2ND PART-

image

Title : Fate or Fake ?

Author : iamlittlejiyeon

Genre : Romance , sad , complicated , friendship , school life.

Type : ONESHOOT

Main Cast :

Park Jiyeon
Kim Jongin
Lee Ahn Na (OC)
Oh Sehun
Park Soyeon (OC)

Poster by : lallakyuart.wordpress.com

OST :

Hyorin – You Driving Me Crazy
BoA – Disturbance

—–

Heyy readerss !
Ini lanjutannya kkk.
Berhubung aku kira 2shoot ga cukup karena ceritaku panjang , jadi aku buat 3 part wahaahaha maaf ya.
Semoga kalian suka ceritanya.
DON’T FORGET TO COMMENT

——

-PREVIOUS-

“Aigoo , lihat – lihat ! Sedang ada yang dimabuk asmara…” Sehun menggelengkan kepalanya.

Jiyeon melihat ke arah ekspresi muka Jongin yang perlahan terlihat murung.

Tatapan matanya kosong.

Ahn Na terus berbicara.

“Apa yang mereka bicarakan…?” gumam Jiyeon.

—-

-Jongin POV-

“Appaku mengusirku dari rumah… Aku tidak tahu harus tinggal dimana…”

‘DEG’

Hal-hal yang Ahn Na katakan sekarang benar – benar membuka kembali luka di hatiku.

Otakku mengulang kembali hari – hari dimana aku ditinggal oleh kedua orangtuaku yang egois…

Mereka meninggalkanku sendiri.

“Mereka… egois…”

‘GREB’

[Play OST : Hyorin – Driving Me Cazy]

Seseorang menarik lenganku.

Jiyeon ?

Ia menarikku entah kemana.

Pikiranku masih mengulang tentang masa – masa kelam itu.

‘BRAK !’

Tanpaku sadari kini aku sampai di lapangan atas sekolah.

“Jangan dengarkan kata – katanya. Jangan mengingat kenangan buruk itu lagi…” Jiyeon menutup kedua telingaku perlahan dengan tangan mungilnya.

Ia menangis.

“It was just your past , jangan dengarkan kata – kata Ahn Na yang bisa membuka kembali lukamu yang sudah susah payahku tutup , Kim Jongin… Andwae…”

Jiyeon menangis makin keras.

‘TES’

Tanpa sadar aku ikut menangis.

“Tapi… Ahn Na perlu bantuanku..” Aku melepaskan tangannya dari kedua telingaku.

“She can survive by herself , Jongin-ah !”

“Anni.. aku harus membantunya ! Ia berada di posisi yang sama sepertiku !”

Aku berlari menuju kelas bertujuan untuk menemui Ahn Na meninggalkan Jiyeon.

Ya.. Aku harus membantu Ahn Na..

—-

-Jiyeon POV-

“Jongin-ah !!! Jongin-ah !!! Jongin-ah…”

Mengapa kau lebih memilih Ahn Na ?!!!

Gwenchana , aku tahu kau tidak menyukaiku ! Arrayo !

Tapi aku hanya berusaha untuk membuatmu gembira seperti sedia kala lagi Jongin-ah…

Aku menangis tersedu – sedu di lapangan atas sekolahku.

Eotteokhae…

Apa semuanya akan baik – baik saja jika aku meninggalkan Jongin.

Aku tidak mau Jongin makin tenggelam dalam masa lalu pahitnya.

“Jongin-ah…”

Aku kembali ke kelas setelah mencuci muka.

Sebentar lagi bel masuk berbunyi.

Baru saja aku menginjakkan kakiku di depan kelas , hal yang benar – benar tidak ingin kulihat terjadi di depan mataku.

Kelas kosong hanya ada Ahn Na dan Jongin.

Jongin memeluk Ahn Na.

‘DEG’

Aku membalikkan badanku.

‘TES’

Kim Jongin , kau benar – benar membuat seorang Park Jiyeon menangis berkali – kali.

Aku memutuskan untuk pergi mencari Sehun.

Di dalam kelas , aku dan Jongin tidka banyak bicara walaupun kami duduk bersebelahan.

‘KRING!!’

“Aigoo , akhirnya jam istirahat” anak – anak merengut dan mulai bangkit berdiri meninggalkan kelas.

Jongin memasukkan bukunya kedalam laci meja.

Aku bangkit berdiri bermaksud untuk pergi ke kantin.

‘GREB’

Tanganku ditahan oleh seseorang.

Kim Jongin.

“…”

“…”

Kami tidak berbicara sama sekali.

“Gwenchanha ?” tiba – tiba Jongin berbicara.

“An-gwenchanha.” Aku menarik tanganku supaya lepas dari genggamannya lalu pergi keluar kelas.

Baru pertama kalinya aku berani berterus terang kepada Jongin.

Aku sudah sangat sakit hati.

Belum lagi aku memikirkan Jongin yang akan makin terpuruk kalau ia terus menolong Ahn Na.

Arrayo !! Aku tau Jongin dan Ahn Na berada di  posisi yang sama.

Tapi , harusnya Ahn Na mengerti Jongin punya kehidupan baru , ia perlu mencapai cita – citanya.

Saat aku pergi ke Amerika , aku harap Soyeon bisa membantuku.

“Jiyeon-ah !!”

Aku membalikkan badanku.

Jongin ?

Ia berlari ke arahku.

Kini ia berada tepat di sampingku.

Jongin kelelahan karena mengejarku.

“Mian…”

“Nae ?”

“Mianhae…”

“For what ?” Aku melipat kedua tanganku di depan dada.

“Mianhae , aku tidak mau mendengarkanmu.”

“Bukannya kau selalu tidak mendengarkanku ?”

“Mian , aku tahu kau selalu memikirkanku , kau memang sahabatku yang paling baik Jiyeon-ah !”

Jongin memelukku.

“Gumawo…”

Mungkin ini pelukan terakhir sebelum aku pergi ke Amerika.

“Kau harus berjanji akan selalu berada disampingku untuk menyemangatiku !”

Hanya untuk menyemangatimu…? Aku mengharapkan lebih…

Aku membalas pelukannya.

“Nae.”

—–

Aku menyilangkan tanggal di kalenderku.

“3 hari lagi…? Hari ini hari sabtu , artinya aku akan berangkat kira – kira hari Kamis…”

Aku melihat ke arah buku catatan yang selama hampir 1 minggu ini aku tulis.

Semoga Soyeon mengerti…

‘BEEP’

Sebuah pesan masuk.

From : Kim Jongin

‘Hey ,  Ms. Park !! Hari ini aku ingin mengajakmu pergi mengelilingi Myeongdeong , kau mau tidak ?’

“Myeongdeong ?! Jongin ? Mengajakku ?!! AAA !!!”

Hatiku sangat berbunga – bunga hari ini.

To : Kim Jongin

‘Nae , aku siap – siap terlebih dahulu ! Pakai mobilku saja hari ini.  Aku akan menjemputmu sebentar lagi !’

Dengan segera aku mengganti bajuku dengan baju terbaikku.

Tak lupa aku membawa kaca mata hitam.

“Jiyeon , neo neomu jalssaengyeotda !!”

Aku berlari keluar kamar sambil memegang kunci mobil.

“EOMMA !! AKU PERGI DULU !” teriakku ke seisi rumah.

Dengan cepat aku masuk ke dalam mobil.

“Here we go !!”

Aku menyetir mobilku keluar rumah.

—-

Aku menelpon Kai.

‘Yoboseyo ?’

‘DEG’

Ini… suara… Ahn Na ?

“…”

‘Yoboseyo..?’

“Ah , nae Ahn Na-ssi. Jongin eodiga ?”

‘Jongin sedang mandi~ Wae ?’

“Anni… Ia tadi mengirimku pesan dan mengajakku ke Myeongdeong. Geunde , mengapa kau bisa berada bersama Jongin…?”

‘Aku tinggal di rumah Jongin.’

‘DEG’

Ige mwoya…?

“Eumh, tolong sampaikan pada Jongin aku tidak bisa pergi bersamanya hari ini. Aku sibuk.”

‘PIP’

Aku mematikan sambungan teleponku.

Apa maksudnya ini semua ?!

Aku memutuskan untuk pergi ke Myeongdeong sendiri.

—–

-Author POV-

“Tsk , Park Jiyeon… Kim Jongin naekkeoya” Ahn Na menggenggam handphone Jongin.

Ia menghapus telepon masuk dari Jiyeon tadi.

“Eoh , Ahn Na ? Mengapa kau berada di kamarku ? Dan handphoneku..?”

“Ahh.. igeo. Aku hanya sedang melihat handphonemu saja.”

“Apa Jiyeon menelpon tadi ?”

“Eoh.. ? Ah.. Anni. Oh ya , tadi dia sempat kesini saat kau mandi , ia bilang ia tidak jadi pergi bersamamu.”

“Dia aneh sekali..” ucap Jongin sambil mengambil handphonenya dari tangan Ahn Na.

“Aku kembali ke kamarku dulu.” Ahn Na keluar dari kamar Jongin.

Setelah Ahn Na keluar, Jongin akhirnya menelpon Jiyeon namun Jiyeon terus menolak panggilan dari Jongin.

—-

-MONDAY-

“Soyeon akan datang hari Rabu pagi ?”

“Nae , Jiyeon-ah.. Kau yang jemput ya.”

“Yes , sir ! Hehehehe. Semuanya tepat sesuai perhitunganku. Aku akan pergi ke Amerika hari Kamis , appa. Aku sudah menulis catatan hal – hal dari diriku yang paling khas , supaya nantinya Soyeon bisa berperan menjadi seorang ‘Jiyeon’ dengan baik.”

“Appa akan terus mengirimmu uang bulanan. Kau akan masuk ke sekolah yang sama dengan Soyeon dulu.” appa Jiyeon berkata dengan tegas.

“Arrasseo… Appa , aku berangkat ke sekolah dulu !”

“Appa juga ingin pergi ke kantor. Lebih baik kau pergi bersama Appa.”

“Nae~”

—-

Sesampainya Jiyeon di sekolah , ia berjalan gontai menuju kelasnya.

Untuk kesekian kalinya ia melihat Ahn Na dan Jongin tengah berbicara.

Dan lagi – lagi wajah Jongin terlihat muram.

Jiyeon menghela napas panjang.

Ia berjalan ke arah Ahn Na dan Jongin -lebih tepatnya ke belakang Jongin-

Tiba – tiba ia menutup kedua telinga Jongin.

Jiyeon melihat ke arah Ahn Na dengan tajam.

“Ahn Na-ssi , bisa bicara sebentar denganku diluar ?”

Ahn Na tampak kaget.

“Baiklah.” Ahn na melipat kedua tangannya di depan dadanya dan berjalan keluar.

“Jangan dipikirkan lagi…” bisik Jiyeon tepat di telinga Jongin.

Setelah itu Jiyeon pergi keluar dan berbicara dengan Ahn Na

“Ahn Na-ssi bukan maksudku untuk melarangmu dekat dengan Jongin , tapi jika kedatanganmu hanya bisa membuatnya terpuruk lagi lebih baik kau menjauh darinya…”

“Menjauh ?”

“Mian , tapi ini demi kebaikan Jongin. Ia punya mimpi.. Dulu aku sudah bersusah payah membuatnya semangat seperti sekarang. Aku mohon kau mengerti.”

“Demi kebaikan Jongin atau demi kebaikanmu Jiyeon-ssi ?”

‘DEG’

Jiyeon terpaku setelah mendengar pertanyaan dari Ahn Na.

“Aku tahu kau menyukainya , aku bisa melihat itu jelas dari sorot matamu ke arahnya , tapi aku juga menyukainya. Dan , jika kau berada diposisiku apa kau tidak akan melakukan hal yang sama ? Aku yakin kau juga melakukan hal yang sama sepertiku ! Lagipula Jongin sekarang baik – baik saja kan?” Ahn Na membentak Jiyeon.

“Arrayo , Ahn Na-ssi. Tapi jika kau benar – benar mencintainya , kau pasti membiarkannya untuk melanjutkan hidupnya dengan baik. Aku tidak melarangmu untuk dekat dengan Jongin , hanya saja aku mohon berhenti bercerita tentang hal – hal yang dapat membuatnya teringat kembali masa lalunya yang kelam.”

“Aku tidak butuh masukkanmu. Ia akan baik – baik saja !”

Ahn Na pergi meninggalkan Jiyeon dan masuk ke kelas.

Jiyeon hanya menghela nafas.

‘Will you be okay without me , Jongin-ah…?’ Ucap Jiyeon dalam hati.

‘KRING’

Jam pulang sekolah berbunyi.

“Jongin-ah , mau menemaniku membeli buku sebentar ?” Tanya Jiyeon saat Jongin sedang membereskan buku.

“Jongin-ah , ayo kita pulang !” Tiba – tiba Ahn Na datang.

“Jiyeon-ah aku harus pulang.” Ucap Jongin dengan datar.

‘DEG’

‘Mengapa Jongin berubah menjadi Jongin yang dulu lagi…?’ Tanya Jiyeon dalam hati.

-FLASHBACK ON-

“Ya ! Namja freak ! Bicaralah sebelum kami siram kau dengan air di ember ini !” Segerombolan namja mengelilingi Jongin yang duduk di bangku 1 SMA pada saat itu.

“…”

“Kau menantang kami ?!”

“YAAA !!!” Tiba – tiba Jiyeon datang dan berjalan mendekat ke arah mereka.

“Yeoja pahlawan kesiangan ini lagi…”

“Wae ? Aku temannya !”

“MWO ?! HAHAHHAHA ! Kau teman namja freak ini ?! Daebakk !”

“Bukannya kau yang freak ?”

“Mworago ?!”

“Kau mengganggunya padahal ia tidak melakukan apapun yang membuat kaluan rugi. Kalian bukan freak tapi gila.” Jiyeon melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tsk yeoja ini…”

Namja ini berusaha memukul Jiyeon namun Jiyeon memukul mereka terlebih dahulu dengan cepat.

“Kalian lupa aku ini mahir dalam taekwondo ?”

Segerombolan namja itu meringis kesakitan.

Jiyeon pergi menghampiri Jongin dan menariknya menuju kelas.

“Jongin-ssi , apakah kau mau menemaniku membeli buku sebentar ?” Tanya Jiyeon kepada Jongin saat jam pelajaran terkahir telah berakhir.

“Jiyeon-ssi aku harus pulang.” Ucap Jongin dengan datar sambil mengangkat tasnya lalu pulang.

-FLASHBACK OFF-

Jiyeon melihat punggung Jongin yang perlahan mulai jauh dari pandangan matanya dan akhirnya pergi keluar kelas bersama dengan Ahn Na.

Jiyeon menunduk berusaha untuk menahan tangisnya.

Ia tetap duduk sampai kelas kosong.

“Jibe kajja , Jiyeon-ah.” Suara Sehun memecah keheningan kelas.

Jiyeon kaget.

“Kau belum pulang…?”

“Aku menunggumu , aigoo. Ppali !”

Sehun berdiri tepat di samping Jiyeon.

Perlahan senyum mengembang di bibir Jiyeon.

“Eumh , kajja !”

—-

Malam pun tiba , Jiyeon sedari tadi ingin sekali menelpon Jongin tapi pada akhirnya ia selalu mengurungkan niatnya.

‘Hanya sisa 1 hari aku bertemu denganmu..’ ungkap Jiyeon dalam hati.

“Ahhh.. Park Jiyeon ayo telepon dia , ajak dia keluar hari iniiii !” Ucap Jiyeon pada dirinya sendiri.

“Ya , aku harus menelpon Jongin !”

Ia mencari kontak di handphonenya yang bernama ‘김종인’

“Yoboseyo…?”

“Eumh , mwo ?”

“Jongin-ah ?”

“Iya ini aku , waeyo ?”

“Eumh.. bisakah kau keluar malam ini bersamaku ? Hanya makan sebentar… lalu kita pulang.. eottae ?”

“Nae , baiklah. Kita bertemu di kedai ramen ahjumma yang biasa kita kunjungi.”

“Arrasseo ! Aku akan segera kesana ! Nae…”

‘PEEP’

“… Yesss !! Park Jiyeon neo jinjja jalhanae !”

Jiyeon mengganti bajunya dan segera menuju tempat yang ia janjikan dengan Jongin.

-Jiyeon POV-

“Ah… Jongin mengapa lama sekali…”

Sudah 15 mwnit berlalu namun Jongin tidak kunjung datang kesini.

Jongin-ah , neo eodiga ?

“Jiyeon-ah !”

Suara khas milik namja yang aku sukai ini terdengar oleh telingaku.

Ah itu dia Jongin !

“Heyy”

Jongin berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku.

“Kau belum memesan ramen ?” Tanya Jongin.

“Belum…”

“Baiklah , ahjumma ramen super pedas 2 !!”

“Aku yang akan traktir hari ini..” ucapku sambil melihat ke arahnya.

“Jinjja ?! Hahaha , baiklah. Gumawo , Jiyeon-ah.” Jongin hanya tertawa pelan.

“…” “….” tidak ada yang membuka pembicaraan sampai pada akhirnya ramen kami datang.

“Ya , Park Jiyeon kau akan mabuk jika kau minum terus !”

Setelah kami makan ramen , aku memesan soju.

“Haahaha , anni.” Jawabku singkat lalu menelungkupkan wajahku di atas meja.

“Aishh , jinjja geumanhae. Jangan minum lagi !” Bentak Jongin.

Aku ingin mengeluarkan isi hatiku sekarang ini juga.

Aku bangkit dari posisiku dan menyenderkan kepalaku di bahunya.

“Jika aku pergi , apa kau akan baik – baik saja..?” Tanyaku padanya berpura – pura mabuk.

“Museun mal-iya ?”

“Anni… jawab saja… ya atau tidak.”

“Tidak… aku tidak akan bisa baik – baik saja tanpamu , sahabatku yang paling berharga.”

“Heum…”

Ya… sahabat… dan sampai kapanpun akan menjadi sahabat.

“Waeyo ?”

“Anni , aku hanya khawatir , hahaha…”

“Jiyeon-ah , kau benar – benar sudah mabuk.”

Anni Jongin-ah aku tidak mabuk.

Jongin mengangkat kepalaku menjadi menghadap ke arahnya sekarang.

“Tsk , kau memang sudah mabuk.”

Aku memberanikan diriku untuk melakukan hal ini.

(Play OST : Hyorin – You Drive Me Crazy)

‘CHU~’

Aku menciumnya.

Disamping hal ini, aku menangis.

Aku menutup mataku.

Jongin-ah , besok aku tak akan bisa lagi melihatmu…

Perlahan tanganku memegang wajahnya.

Aku kemudian melepas ciumanku dan pura – pura tertidur bersandar di kursi.

“Jiyeon-ah…” aku mendengarnya memanggil namaku.

“Jiyeon-ah ?” Ia mengguncang tubuhku.

“Ia benar – benar sudah mabuk.”

Aku mengintip sedikit, Jongin terlihat memegang bibirnya.

“Jiyeon-ah…” aku menutup mataku kembali.

“Soljikhi , nan johaeyo…”

‘DEG’

Jongin apa kau benar – benar… mengatakan itu…?

“Aku tidak menyukai Ahn Na. Aku hanya ingin tahu apa rekasimu waktu itu… saat aku memberi tahumu kalau aku menyukai Ahn Na.”

Entahlah perasaan apa ini…

Di satu sisi aku senang , namun di sisi lain aku sedih karena sebentar lagi aku tidak akan bisa melihatnya.

“Aku senang walaupun saat ini kau sedang mabuk, kau menciumku.”

Ahh Kim Jongin geumanhae…

“Ahn Na hanya ku anggap seseorang yang bernasib sama denganku , dan aku ingin membantunya. Tapi benar katamu , sikapku yang terlalu kepahlawanan itu membuatku kembali mengingat masa – masa kelamku. Saat di taman rekreasi , aku ingin kau cemburu , ternyata kau tidak cemburu. Namun , aku janji akan menyatakan perasaanku kepadamu secepatnya.”

Aku tetap dalam aktingku.

Ia tidak berbicara lagi.

Aku mengintip sedikit.

‘DEG’

Wajah Jongin sudah tepat di depan wajahku.

Dengan segera aku menutup mataku lagi.

Kim Jongin neo jigeum mwohaneungeoya !?!

‘CHU’

Ia menciumku.

Ahh apa ini mimpi ?!

Jongin memegang wajahku.

Ah mati aku !!!!!!

Harusnya kau tadi tiba – tiba bangun Park Jiyeon !!!

Kalau sudah begini apa yang harus kau lakukan ?!

Terpaksa…

Aku menaruh tanganku di dadanya.

Tentu itu akan membuatnya kaget. Geuchi ?!

Hana… dul… set !

Jongin melepas ciumannya.

“Ji.. Jiyeon-ah ?!”

Aku berpura – pura baru bangun.

“Heumm…”

“Kau…”

“Mwo ?? Apa aku baru saja melakukan hal yang tidak pantas kepadamu ?!” Aku berpura – pura kaget.

“Anni… anni… Jibe kajja !”

“Nae , gidaryeo ,akan ku bayar dulu.”

“Ah– ya ya..”

Aku beranjak dari tempat dudukku dan pergi membayar makanan dan minuman kami.

Aku menahan tawaku melihat Jongin yang gelagapan seperti tadi.

Hahahahahaha aigoo , Jongin-ah neo neomu gwiyeowo kkk.

—-

Hari Rabu pagi , tepat pukul 8 , aku sudah berada di airport , tentu untuk menjemput Soyeon. Maka itu aku tidak sekolah.

Aku sudah menunggunya sejak jam 7 pagi dan ia belum terlihat sama sekali ! Ahh jinjja.

“Ehemm ! Eum… Jiyeon-ah !” Seorang yeoja yang memakai masker kaca mata , topi , jaket , dan celana panjang hitam memanggil namaku.

“EOH GGAPCHAGI !”

“Hehe…”

“Nuguseyo…?”

“Ehh.. aku kembaranmu bodoh… ppali !”

“Jinjja ! Kau mengagetkanku So–”

Soyeon membekap mulutku.

“Ya… kau mau aku ditangkap polisi ?!” Bisik Soyeon dengan keras.

“Aishh ! Arra ! Cepat naik ke mobil !”

“Masukan tasku dulu ke dalam bagasi !”

Aku melihat ke arah tasnya yang sangat besar itu.

“Mwo ? Masukkan saja sendiri !”

Kemudian aku masuk kedalam mobil.

Soyeon terus merengut.

—–

Kini aku dan Soyeon berada dalam perjalanan pulang.

Soyeon mempunyai rambut panjang dan tentunya sangat feminin.

Wajahnya sama sepertiku. Tiap lekukan wajahnya sama seperti lekukan wajahku.

Suaranya sama seperti suaraku.

Tingginyapun sama.

Namun kepribadian kami yang berbeda.

“Kau merindukanku , Jiyeon-ah ?”

“Sama sekali tidak !”

“Aigoo , kau malu – malu… uyuuuu uri Park Jiyeon neomu gwiyeopda !”

Soyeon menggodaku dan mencolek(?) daguku.

“Mwoya , Park Soyeon , kau mau aku turunkan disini ?!”

“Ishhh , begitu saja marah ! Huhh !”

Soyeon menyalakan lagu di mobilku.

Dan… ah ya , selera musikku sama dengan selera musikknya.

Aku menyukai lagu – lagu barat.

Band dan penyanyi kesukaan kami sama , seperti Coldplay , Tori Kelly , Demi Lovato , Lorde dan masih banyak lagi.

“Ya , kau hari ini akan belajar bagaimana caranya menjadi aku.” Ungkapku.

“Well , you know that I’m smart and I will easily imitating you.”

“Ughh you are so annoying. I’m just telling you Ms. Park.”

—–

Kami sampai dirumah.

Soyeon bertemu dengan eomma dan appa , ia pasti merasa senang.

Yahh , walaupun aku terkadang membencinya , aku juga menyayanginya.

“Eomma sangat merindukanmu Soyeon-ah…”

“Nado eomma…”

“Kau lupa terhadap appa ?”

“Sudahlah , appa untukku saja !” Aku berlari memeluk appaku.

“Ya ! Aku juga ingin memeluk appa ! Bikyeoo !”

“Andwae.. bweeee !”

Soyeon ikut memeluk appa.

“Hahahahaha , aigoo , kalian berdua sangat lucu ! Oh ya Soyeon-ah , besok sehabis oulang sekolah kita akan pergi ke rumah halmeoni.”

“Arrasseo..” Soyeon mengangguk

—-

“Okay , so…. kau harus memotong rambutmu.” Kini Soyeon duduk di atas kasurku -yang sebentar lagi akan menjadi kasurnya-.

“Mwo ?! Andwae !!”

“Ini mutlak , harus , dan wajib Soyeon-ah…” Aku ikut duduk di sebelahnya.

“Geunde—”

“Kau ingin polisi mengetahui jati dirimu ?” Ucapku dengan senyum penuh arti.

“A– ah.. arrasseo.”

“Uyuuuu uri Park Soyeon neomu gwiyeoptda !” Aku menggodanya dan mencolek dagunya.

“Geuchi , nan neomu gwiyeoptda !”

“Sorry , but it’s a lie ! Kajja !” Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar kamar.

“Kau menyebalkan Jiyeon-ah !!”

—–

Aku mengajarkan sebagian hal tentangku.

Soyeon memotong rambutnya sama persis sepertiku.

“Not bad..” ucap Soyeon sambil merapikan rambutnya.

“Baiklah , sekarang kau harus merubah penampilanmu menjadi manly dan cool..”

“Mwo ? ANDWAE ! aku tidak mau !”

“Wae ?! Nanti identitasmu bisa terungkap !”

“Anni , Jiyeon-ah. Mereka tidak akan tahu.”

“Heum… baiklah.”

Hari sudah menjelang malam. Dan besok pagi aku harus pergi dari negara ini…

-Author POV-

Subuh sekitar pukul 5, Jiyeon sudah bersiap menuju airport.

Jiyeon sudah memasukkan baju – bajunya kedalam koper.

Iya mengambil 1 photo polaroidnya bersama Jongin.

“Gonna miss you… Jongin-ah…” gumam Jiyeon sambil memasuki mobilnya.

Hari ini ia di antar oleh supir pribadi keluarganya.

Mobil mulai berjalan menuju airport.

“Ah.. ahjussi , bisa berhenti di perumahan di dekat sini sebentar ?”

Jiyeon mampir terlebih dahulu ke rumah Jongin.

Ia tidak masuk hanya berdiri di deoan rumah.

“Saranghae ,Jongin-ah…”

—-

Tepat pukul 6 , Jiyeon memasuki pesawat.

Ia memakai kacamata hitam seperti biasa.

Jiyeon melihat keluar ke arah kaca.

Sedangkan disisi lain Soyeon tengah merapikan seragam sekolahnya.

Rok yang pendek dan ia benar terlihat seperti Jiyeon versi yang lebih feminin.

“Jigeumeun…” “See you…”

“Naneun…” “Korea…”

“Park Jiyeon-imnida !”

-TBC-

Ahhhakhirnya selesai jugakkk
Semoga kalian semua suka deh waahhhahha XD
Maaf ya kalo kurang bagus nihh
DON’T FORGET TO COMMENT !!

Advertisements

18 Comments

  1. jadi bingung kenapa harus seperti ini..
    namun senang rasa, meski banyak hal yang harus ditahan oleh jiyeon seperti orang tuanya dan halmonie yang lebih welcome atas kedatangan soyeon, jiyeon yang menahan diri atas sikap ahn na yang seenaknya… ternyata jongin mengungkapkan rasanya pada jiyeon..
    entah apa jadinya setelah jiyeon pergi.. akan kah posisi jiyeon akan tergantikan oleh soyeon?? dan jiyeon terlupakan? mirisss..

  2. Loh loh kenapa mereka harus bertukar tempat?? Waeeee??? Padahal jongin suka tuh sama jiyeon, jeballll jiyeonie kembali donkkk,
    Kira2 gimana reaksi jongin saat liat soyeon yg menempati posisi jiyeon
    Next next next 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s